LEISURE

Upacara Adat Ngayu-Ayu, Menjaga Harmonisasi Alam dan Manusia di Bumi Sembalun

GETNEWS – Sembalun sebuah wikayah yang terletak di kaki gunung Rinjani – merupakan salah satu kawasan andalan dari Geopark Rinjani Lombok, dikenal memiliki kekayaan alam berupa gunung dan bukit yang mempesona. Di era tahun 80-an, Sembalun dikenal luas sebagai penghasil bawang putih nomer satu di Negeri ini. Karena kesuburan alamnya, beraneka kekayaan hasil pertanian seperti strawberry, kentang, paprika hanya dapat ditemui di Sembalun, sehingga tak heran Sembalun menjadi primadona untuk wisatawan lokal, domestik dan mancanegara.

Selain kekayaan alam, Sembalun juga banyak memiliki asset budaya mulai dari keberadaan Desa Beleq, sebuah komplek desa adat yang merupakan desa pertama yang didirikan oleh leluhur masyarakat Sembalun yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya. Selain itu, bagi anda yang menyukai wisata budaya, Sembalun juga memiliki atraksi budaya unik bernama Upacara Adat Ngayu-Ayu.

Upacara adat Ngayu-ayu adalah sebuah acara adat yang diadakan setiap 3 tahun sekali, dan sudah turun temurun dilakukan sejak lebih dari 600 tahun yang lalu. Upacara Ngayu-ayu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Sembalun kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas diberikan kelimpahan hasil bumi, terhindar dari bencana, dan harapan untuk terhindar dari penyakit-penyakit yang konon di zaman dahulu sering dialami oleh masyarakat setempat. Selain itu Ritual Ngayu Ayu merupakan bentuk syukur atas tumbuh suburnya padi merah (pade abang) yang dimana tipikal tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat.

Prosesi acara ritual Ngayu Ayu ini telah berlangsung selama dua hari pada tanggal 20 s/d 21 Juli 2016 lalu. Di hari pertama, pengumpulan air dari tujuh sumber mata air yang mengalir dan dimanfaatkan oleh Masyarakat Sembalun. Air tersebut didiamkan selama satu malam di rumah-rumah ketua adat. Keesokan harinya dikumpulkan menjadi satu di Makam Adat yang terletak di sebelah barat Lapangan Sembalun Bumbung.

Adapun tujuan dari pengumpulan air dari tujuh sumber mata air ini merupakan simbol atas rasa syukur masyarakat Sembalun atas berlimpahnya hasil bumi di tanah Sembalun. Hari kedua dimulai dengan acara penyembelihan kerbau yang dilakukan oleh ketua-ketua adat yang selanjutnya kepala kerbau tersebut ditanam sebagai pasak bumi (pengaman) Desa Sembalun dari bala bencana.

Kemudian dagingnya dimasak oleh ibu-ibu setempat untuk disajikan dan disantap bersama-sama yang dalam istilah Bahasa Sasaknya adalag “Begibung”. Setelah itu, diadakan Ritual Mafakin, dimana ritual ini para Ketua Adat membacakan bacaan-bacaan selama prosesi penurunan bibit padi merah (pade abang) dari lembang sampai proses penyemaian. Yang selanjutnya diadakan perang topat.

Setelah prosesi di atas, masyarakat mengitari makam adat sebanyak sembilan kali putaran masing-masing ketua adat atau yang diwakilkan oleh anaknya menggendong air dari tujuh sumber mata air sebelum dikumpulkan menjadi satu di dalam makam.

Anak-anak Desa Sembalun bersiap mengikuti prosesi upacara adat Ngayu Ayu (Foto : Hero Firmansyah)

Ritual adat Ngayu-Ayu berasal dari kata Ng=Ngumpulkan, A=Aik (13 Mata Air), Y=Yalah, U=Upacara, A=Adat Y=Yang U=Utama/pertama. Jadi Ngayu-Ayu berarti mengumpulkan 13 mata air adalah upacara adat yang utama atau pertama. Ritual adat Ngayu-Ayu dilaksanakan setiap 3 (tiga) tahun sekali yakni tanggal 5, 15, 25 maksudnya adalah angka-angka tanggal itu merupakan permujudan dari lemparan jumlah ketupat yang dilempar oleh para tokoh Sembalun masa lalu untuk menghalau iblis yang mengganggu warga Sembalun.

Berikut ini adalah urutan kegiatan selengkapnya dalam tradisi upacara Ngayu-Ayu :

Pengambilan air suci dari 12 mata air sebagai wujud penyatuan diri dengan alam agar menjadi manusia yang bersih dan berakhlak mulia.

Tari Tandang Mendet, Melakoni peristiwa penyerangan prajurit-prajurit Majapahit Hindu kepada orang-orang Budha pada masa Budha Kortala.

Tari Tandang Mendet (Foto : Hero Firmansyah)

Ritual pemitian makam dimaksudkan sebagai penghargaan dan penghormatan kepada arwah yang dimakamkan pada makam yang ada di Lendang Luar karena beliaulah yang mula-mula membawa seikat padi merah serta merubah prilaku hidup masyarakat primitif ke masyarakat beragama dan berbudaya.

Bebija Tawar, Bebija tawar dimaksudkan untuk menghormati keberadaan sebuah sumur yang dulu airnya harum karena ditempat sumur ini Bathara Guru memberikan pelajaran Penolak Bala kepada manusia dan melindungi tanaman padi merah.

Menghaturkan Sesampang, Upacara menghaturkan sesampang yaitu sebagai upacara pemberitahuan kepada leluhur dan penguasa alam bahwa kegiatan ada Ngayu-Ayu akan segera dilaksanakan.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan kerbau dan penanaman kepala kerbau sebagai pantek/pasek/pemagar/gumi. Pemagar gumi merupakan bentuk terhadap alam agar senantiasa terjalin keseimbangan dengan manusia sebagai pengambil manfaat.
Upacara Mapakin, Upacara mapakin diawali dengan acara silaturrohmi dengan bersalaman antara sesepuh adat dengan para tamu undangan dan seluruh masyarakat Sembalun. Untuk selanjutnya upacara mapakin melalui tiga macam prosesi pelemparan ketupat yaitu:
• Lemparan pertama yang dimulai dengan ucapan Lima.
• Lemparan kedua yang dimulai dengan ucapan Limaolas.
• Lemparan ketiga yang dimulai dengan ucapan Selae.

Pelaksanaan Upacara Ngayu-Ayu tahun ini dihadiri oleh para Raja-Raja Nusantara dari berbagai wilayah seperti Kesultanan Demak, Kesultanan Solo, Kesultanan Kendari, Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan dari pulau Sumatera. Yang berbeda pada puncak ngayu-ayu 20-21 Juli 2016 ini adalah dengan kedatangan Presiden Komite Perdamain yaitu bapak Dr. Djoyoto Sontani turut memeriahkan upacara tiga tahunan ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button