GET MORE

MAYJEN (Purn) H. Gatot Soeherman : Putra Yogya Yang Mengharumkan Nama NTB di Pentas Dunia

Karena menyadari sistem Gogo-Rancah merupakan satu-satunya jalan, dan tak ada pilihan lain, untuk membebaskan masyarakat NTB dari ancaman bahaya kelaparan yang terus mengancam, naluri prajurit Gatot Soeherman tiba-tiba menyeruak. Ia telah sampai pada satu situasi di mana ia harus ‘membunuh atau dibunuh’

Oleh: Pahrizal Iqrom*

GETNEWS – Kamis, 14 November 1985, menjadi kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia saat itu. Pada Konferensi Food and Agriculture Organization (FAO) Ke-23 yang digelar di Roma, Italia, Presiden Soeharto secara khusus diminta menyampaikan pidato di forum dunia tersebut.

Hanya dua orang saja yang diminta berpidato pada konferensi spesial tersebut. Yaitu Presiden Soeharto yang mewakili negara-negara berkembang, serta Presiden Perancis Francois Mitterrand, selaku perwakilan negara-negara maju.

Presiden Soeharto mendapat kehormatan untuk berpidato terlebih dahulu. Hal ini bukan tanpa alasan. Ini adalah bentuk pengakuan atas keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984.

Tahukah anda siapa yang berjasa di balik pencapaian tersebut? Ya, Gatot Soeherman adalah salah satunya. Dan Presiden Soeharto mengetahui dengan persis hal itu.

Oleh sebab itulah, karena tak ingin seperti kacang yang melupakan kulitnya, Presiden Soeharto mengajak Gubernur NTB kala itu, Gatot Soeherman, untuk ikut menghadiri Konferesi yang juga bertepatan dengan peringatan 40 tahun FAO.

Di hadapan puluhan petinggi negara dari seluruh dunia itulah Presiden Soeharto menyampaikan apresiasi kepada Gatot Soeherman, dengan menyampaikan keberhasilan yang diraih NTB, khususnya Pulau Lombok dengan Gogo Rancah. Berkat usaha serta kerja keras Gatot Soherman, NTB memang berubah dari daerah rawan pangan menjadi surplus pangan.

Atas dedikasi Gatot Soeherman itulah Presiden Soeharto menerima penghargaan FAO yang disampaikan oleh direktur-jenderalnya, Eduard Saoma, berupa medali emas. Di satu sisi medali tersebut berupa gambar timbul Presiden Soeharto, sementara sisi satunya gambar petani sedang menanam padi dihiasi tulisan ‘From Rice Importer to Self Sufficiency’.


Soeherman, sapaan pria dengan wajah rupawan ini saat masih remaja. Dalam kesatuan militernya ia akrab dipanggil Herman. Apapun panggilannya, yang jelas kontribusi beliau bagi Provinsi NTB terbilang tidak biasa-biasa saja, bahkan layak disebut spektakuler.

Sebagaimana biasa, guna memenuhi standar ketat dari Lombok Heritage Society, maka untuk melengkapi berbagai data yang telah berhasil digali melalui sejumlah riset oleh rekan-rekan di Lombok Heritage Society, diputuskan untuk mewawancarai langsung keluarga beliau. Tujuannya untuk mempertajam sekaligus juga mengkonfirmasi sejumlah temuan.

Oleh Lombok Heritage Society, sayalah (penulis) yang ditugaskan untuk melakukan wawancara tersebut. Alasannya, karena Gatot Soeherman memiliki kedekatan dengan Gelogor, kampung tempat saya berasal. Saya tidak begitu paham, namun setelah mewawancarai keluarga beliau barulah saya mengerti alasan tersebut.

Upaya ini seakan diberkati Tuhan. Jalan yang dibentangkan begitu mudah.

Ketika tengah menimbang-nimbang siapa yang hendak diwawancarai, saya justru mendapat kabar yang tak dinyana. Putra beliau yang paling banyak tahu tentang kisah perjalanan hidup Gator Soeherman, tengah berada di Mataram dan besok sore akan kembali ke Surabaya.

Ketidaksengajaan ini terasa bagaikan Tuhan memang sengaja mengirim putra beliau, Assc. Prof. Dr. Ir. Achmad Daengs Gatot Soeherman, SE., MM., ke Mataram untuk diinterview. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Jam 4 sore, kami mulai berkomunikasi. Sambutannya ramah walaupun dengan orang yang belum dikenalnya. Semua mengalir begitu saja dan langsung disepakati besok bertemu jam delapan pagi di Hotel Santika Mataram, yang merupakan bekas kantor ayahnya saat bertugas sebagai Komandan Korem.

Pak Achmad, begitu saya memanggilnya, merupakan putra sulung mendiang Mayor Jenderal (Purn) H. Gatot Soeherman bersama Ibu Hj. Hartini Harsono Tjondronegoro yang menikah pada tahun 1952. Sebagai seorang intelektual, ceritanya mengalir runut serta paham dengan baik bagaimana pentingnya memverifikasi kisah dan data.

Mayjen TNI (Purn) H. Gatot Soeherman lahir di Yogyakarta pada 1 Juni 1930, dari seorang ayah yang berprofesi sebagai awak bus antar kota, dengan rute Yogyakarta – Klaten – Solo pp. Sekalipun demikian, keluarga tersebut dididik untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya dan meraih prestasi semaksimal mungkin.

Elan seperti itu tidaklah terlalu mengherankan. Sebab Gatot Soeherman lahir dari lingkungan keluarga besar Muhammadiyah di Yogyakarta.

Sekalipun secara ekonomi kehidupan Gatot Soeherman beserta ketiga orang saudaranya pas-pasan, namun ilmu pengetahuan juga menjadi prioritas. Oleh karena itulah Soeherman kecil dididik secara spartan, pantang menyerah dengan disiplin tinggi, namun tetap santun, lemah-lembut dalam bersikap dan bertutur-kata.

Prinsipnya, kondisi ekonomi tak boleh membatasi cita-cita kita, dan sekalipun kondisi kurang menguntungkan jangan pernah merugikan orang lain. Mungkin itulah nilai-nilai yang bisa kita petik untuk tak pernah menyerah dalam situasi apapun.

Sejak kecil beliau sudah tumbuh menjadi sosok yang toleran dan ringan tangan. Saat tetangganya mengalami musibah, maka ialah yang pertama hadir untuk membantu. Tidak peduli apapun agama maupun latar belakangnya, semua dilakukan demi kemanusiaan.

Karena didikan masa kecil oleh orang tuanya yang penuh dedikasi dan disiplin, karir Gatot Soeherman di dunia militer yang menjadi pilihannya terbilang mulus. Beliau adalah salah satu lulusan awal dari Akademi Militer Yogyakarta atau Militaire Academie (MA) Yogyakarta yang didirikan pada tanggal 31 Oktober 1945.

Pada tahun 1950, setelah meluluskan dua angkatan, MA Yogyakarta ditutup sementara. Taruna angkatan ketiga menyelesaikan pendidikannya di KMA Breda, Belanda.

Sebagai seorang prajurit, Gatot Soeherman sarat dengan pengalaman tempur. Bersama para alumni MA Yogyakarta lainnya, ia telah melaui berbagai palagan dalam menghadapi Agresi Militer Belanda.

Pasca revolusi fisik, beliau ditugaskan di berbagai bidang dan kewilayahan. Ia sempat ditugaskan menjadi Perwira Instruktur Pendidikan Infantri, di Sekolah Kader Infantri di Bandung, sampai dengan tahun 1964.

Kemudian beliau juga ditugaskan sebagai Komandan Kodim 1603 di Maumere, NTT. Di sini beliau memiliki pengalaman yang tak terlupakan.

Bagaimana tidak, pada tanggal 25 September 1965, beliau bertemu dengan Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani. Saat itu Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi tersebut memang tengah melakukan kunjungan ke Maumere.

Kunjungan ke Indonesia Timur itu dilakukan untuk memperkuat Pancasila dan persatuan Indonesia. Sebelumnya sang Jenderal juga telah mengunjungi Indonesia Barat.

Jenderal Ahmad Yani tak hadir seorang diri di Maumere. Sejumlah Jenderal juga turut serta, termasuk Brigjen D.I. Panjaitan, Asisten IV bidang Logistik. Sebagai Komandan Kodim Maumere, tentu Gatot Soeherman bertanggung jawab terhadap keamanan para Jenderal ini.

Dalam pidatonya di Sekolah Calon Pastor dari Societas Verbi Divini (SVD) yang berlokasi di Bukit Ledalero itu, sang Jenderal mengatakan “Saya akan kembali”.

Tak dinyana, pesan itu merupakan sebuah pertanda. Lima hari kemudian, Letjen Ahmad Yani kembali ke pangkuan Tuhan, bersama Brigjen D.I. Panjaitan.

Tak heran jika masyarakat Maumere begitu berduka dengan berita tersebut. Sebagai Komandan Kodim, Gatot Soeherman pun memimpin pembersihan anasir-anasir G30S/PKI disana.

Dari situ beliau diangkat menjadi Kepala Staf Korem 161 Nusa Tenggara Timur di Kupang sampai dengan medio 1967. Setelah itu Gatot Soeherman kemudian pindah tugas ke Lombok dari tahun 1967 hingga 1975, sebagai Komandan Korem 162/Wira Bhakti menggantikan Kolonel Infantri H.R. Wasita Kusumah.

Penempatan beliau di wilayah Sunda Kecil, yaitu NTT, NTB dan kelak Bali, tidaklah terlalu mengherankan. Sebab, ketika masa revolusi fisik di Yogyakarta, beliau sudah bersentuhan dengan Laskar Soenda Ketjil maupun GIRSK, seperti Husny Abbas, Herman Johanes dan lain sebagainya. Artinya, beliau memang akrab dengan orang-orang Sunda Kecil.

Ada sesuatu yang istimewa saat penugasannya sebagai Danrem 162/Wira Bhakti. Masa jabatannya merupakan sesuatu yang di luar kebiasaan. Biasanya dalam dinas militer, suatu jabatan hanyan sekita tiga tahun. Sementara Danrem Wira Bhakti dijabat Gatot Soeherman selama delapan tahun. Tapi semua dijalani dengan senang hati dan tawakal.

Nampaknya itu justru sebuah langkah agar beliau mengenal lebih dekat lagi wilayah tersebut. Sebab kelak beliau akan menapak jabatan yang lebih tinggi lagi. Karena sesuatu dan lain hal, terjadi kekosongan jabatan Rektor di Universitas Mataram, maka pada tahun 1974 hingga 1975, Gatot Soeherman ditunjuk menjabat sebagai Rektor Unram. Ia dilantik oleh Menteri Pendidikan pada saat itu Profesor Soemantri Brojonegoro.

Uniknya, saat itu Gatot Soeherman masih memegang Jabatan sebagai Komandan Korem 162/Wira Bhakti. Sehingga ia memiliki dua tanggungjawab sekaligus yang harus di jalankan secara bersamaan.

Kemudian dari Mei 1975 ia dilantik oleh Pangdam Udayana saat itu Brigjen TNI Ignatius Pranoto sebagai Kasdam Udayana. Jabatan ini diembannya mungkin karena pertimbangan sangat mengenal NTT. Sebab, saat itu merupakan awal terjadinya proses integrasi Timor Timur ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah Operasi Seroja.

Sebelum masa jabatannya berakhir sebagai Kasdam Udayana, pada tanggal 30 Agustus 1978 Gatot Soeherman dilantik oleh Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud, sebagai Gubernur KDH TK I Nusa Tenggara Barat. Kala itu ia masih menjadi seorang Perwira TNI-AD Aktif dan masih melekat pangkat jabatannya sebagai Kasdam Udayana.

Bisa dikatakan, Gatot Soeherman adalah tokoh yang memiliki spesialisasi menyandang dua jabatan bergengsi secara bersamaan. Semua ini tentu tak lepas karena kegemilangan beliau.

Gatot Soeherman menjabat sebagai gubernur selama sepuluh tahun, dari 1978 hingga 1988. Dua bulan sebelum mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur KDH TK I NTB, beliau sudah dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung RI Periode 1988 – 1993. Lagi-lagi beliau menyandang dua jabatan bergengsi secara bersamaan.


Dalam perbincangan pagi itulah saya baru mengetahui alasan mengapa Lombok Heritage Society menunjuk saya untuk mewawancari Pak Achmad. Beliau menceritakan hubungan ayahnya yang begitu dekat dengan para ulama di Lombok, baik di Gelogor maupun berbagai wilayah lainnya.

Pak Achmad menceritakan bahwa putra kelima Gatot Soeherman yang bernama Akbar Wiraguna, dikhitankan di Gelogor pada tahun 1979. Tepatnya di kediaman Datoq TGH. Muhammad Idris Gelogor.

Gatot Soeherman juga sangat dekat dengan Maulana Syiekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Pancor. Apalagi menantu beliau, Raden Wira Santana (almarhum) begitu akrab dengan keluarga Gatot Soeherman.

Untuk mengisi waktu sengganggnya, Gatot Soeherman kerap mengajak keluarganya untuk berenang di pantai Pura Segara di Ampenan. Dahulu pantai ini memang merupakan tempat wisata.

Hampir setiap minggu menjadi kebiasaan wajib bagi putra-putri beliau untuk berekreasi dan berenang ke Pura Segara. Hasilnya, pak Achmad kini menjadi instruktur olahraga menyelam di Kota Surabaya. Ia adalah Ketua Forum Olahraga Selam Indonesia (FOSI) di Kota Pahlawan tersebut. Didikan menyelam dari mendiang Gatot Soeherman masih menampakkan jejaknya.


Kita tentu sering mendengar idiom yang berbunyi ‘Behind a Great Man there’s a Great Woman’ atau di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita hebat di belakangnya. Dan ini memang terbukti.

Kunci kesuksesan seorang Gatot Soeherman memang terletak pada sosok istri beliau, Ibu Hj. Hartini Harsono Tjondronegoro. Gagasan-gagasan juga sering datang dari sang istri.

Sikap dan perilaku Pak Gatot Soeherman bisa dibilang biasa-biasa saja, sebagaimana laiknya orang Jawa yang mengutamakan kehalusan tutur dan laku. Beda halnya dengan ibu Hartini, sikapnya tegas dan keras sehingga semua putra-putri beliau banyak mendapatkan pendidikan disiplin justru dari sang ibu.

Ketika gempa besar terjadi pada tahun 1978 yang memporak-porandakan wilayah bagian barat Pulau Lombok, Ibu Hartini juga sibuk mencari dan menyalurkan bantuan. Ketika itu Sesdalopbang Solichin GP datang meninjau. Demikian pula Presiden Soeharto memberikan bantuan untuk membangun kembali daerah yang terdampak.

Untuk meresmikan pembangunan kembali sarana dan prasarana yang hancur akibat gempa bumi tersebut, Pak Harto datang ke NTB. Dan itu merupakan kunjungan Presiden Soeharto pertama kali ke provinsi ini.

Setelah itu hubungan pun semakin terbina baik. Apalagi Gubernur Gatot Soeherman dan Presiden Soeharto pernah sama-sama berjuang di Yogyakarta.

Ketika pertama kali mengkonsultasikan rencana program Gogo-Rancah untuk mengatasi kekeringan dan kelaparan di NTB ke Presiden Soeharto bersama Sesdalopbang Solichin GP, Pak Harto tidak percaya akan gagasan revolusioner Gatot Soeherman tersebut.

Wajar saja Presiden Soeharto tidak percaya. Waktu itu Pak Gatot Soeherman berencana menanam padi secara serentak pada 52.000 hektar lahan. Padahal uji cobanya hanya pada areal seluas 5 hektar.

Gagasan Pak Gatot Soeherman Ini memang nekat. Pak Harto pun mengingatkan, air saja tidak ada di daerah tersebut, bagaimana mungkin mau menanam dua kali setahun dalam areal lahan seluas itu.

Dengan gaya khas Yogyakarta yang halus namun menggigit, Pak Harto memberi warning. Bahwa kegagalan proyek ini tak hanya akan memalukan Gatot Soeherman sebagai Gubernur NTB, namun akan mempermalukan Presiden yang merestui. Artinya, nama baik bangsa ini yang tengah dipertaruhkan.

Karena menyadari sistem Gogo-Rancah merupakan satu-satunya jalan, dan tak ada pilihan lain, untuk membebaskan masyarakat NTB dari ancaman bahaya kelaparan yang terus mengancam, naluri prajurit Gatot Soeherman tiba-tiba menyeruak. Ia telah sampai pada satu situasi di mana ia harus ‘membunuh atau dibunuh’.

Dengan mantab Gatot Soeherman bertekad untuk melaksanakan program ini. Pak Harto pun mengangguk setuju melihat tekad yang dikobarkan anak buahnya sambil memberikan sejumlah petunjuk.

Ketika saatnya tiba, Presiden Soeharto dan Ibu Tien didampingi sejumlah Menteri hadir untuk melakukan Panen Raya bersama rakyat NTB. Pak Harto terpana menatap hamparan padi menguning di sejauh mata memandang. Tanpa sadar keluar lenguhan dari bibir beliau, “Aku ora nyono.” Dalam bahasa Indonesia berarti, saya tidak menyangka akan sukses.

Keberhasilan ini melahirkan sebuah trademark yang membanggakan bagi NTB. Yaitu, “Ingat Gora ingat NTB. Ingat NTB ingat Gora.”

Sejak saat itulah Presiden Soeharto menjadi sering hadir di NTB. Seperti saat peresmian Waduk Batu Jai di Lombok Tengah, panen mutiara di Tanjung Betro, Sumbawa, panen raya bawang putih di Sembalun, Lombok Timur, dan peresmian Laboratorium Hepatitis di Mataram yang merupakan satu-satunya di Indonesia.

Setiap kali datang berkunjung, Presiden Soeharto selalu bertanya kepada Gatot Soeherman, apakah ada terobosan baru buat NTB? Bagi Pak Harto, Gatot Soeherman adalah seorang pionir yang kaya akan gagasan.

Atas segala pencapain yang telah ditorehkan bersama rakyat NTB, Gatot Soeherman dalam waktu berturut-turut menerima berbagai penghargaan. Salah satunya adalah Bintang Mahaputra.

Perhatian Presiden Soeharto kepada Gubernur NTB ini memang luar biasa. Hubungan kedua putra Yogyakarta ini menjadi kian dekat.

Ketika mendengar kabar Gatot Soeherman dirawat di ICU RSU Mataram, seminggu menjelang Sidang Umum MPR 1988, Presiden Soeharto langsung mengirim dokter dari Jakarta ke Mataram. Juga disertai dengan kartu ucapan semoga lekas sembuh. Perhatian Pak Harto ini justru menjadi obat mujarab bagi Gatot Soeherman.

Sayang ketika Gatot Soeherman dirawat di RSI Siti Hajar Mataram, Pak Harto telah ‘madeg pandhito’. Tak lagi bisa menghibur dan mengirim dokter khusus dari Jakarta untuk Gatot Soeherman.

Akhirnya, Mayjen (Purn) H. Gatot Soeherman wafat dengan tenang pada hari Jum’at, 16 Januari 2007 di Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram pada pukul 09.00 Wita.

Hanya ada satu pertanyaan beliau sebelum wafat dan ini tercetus dalam perbincangan beliau dengan putra sulungnya. “Mad, kira-kira bisa tidak nama jalan yang menuju rumah kita menggunakan nama bapak?”

Saat mengisahkan kembali percakapan tersebut, Pak Achmad tak kuasa membendung tangis, terisak mengenang kemasygulan sekaligus juga harapan almarhum ayahandanya. Ia tak mampu melanjutkan ceritanya.

Ia menangis karena tentu merasa tak layak jika ia sebagai keluarga meminta atau memaksa pemerintah daerah untuk menunaikan pesan almarhum ayahnya. Namun di sisi lain ia juga mengemban amanat yang disampaikan almarhum ayahnya. Kitalah, masyarakat NTB, yang kini bertugas menyuarakan harapan terakhir Gatot Soeherman tersebut.

Sebagaimana kita ketahui sejak lama Gatot Soeherman mendiami rumah di Jalan Langko 11 Ampenan. Rumah ini dan sekitarnya dahulu adalah bekas markas Korem 162/Wira Bhakti.

Bukan materi. Hanya sebatas nama jalan saja yang diminta oleh tokoh yang begitu berjasa memajukan dan mengharumkan nama NTB sebagaimana para gubernur lainnya. Apakah itu terlalu berat untuk dikabulkan?

Mayjen (Purn) H. Gatot Soeherman telah mempertaruhkan segalanya – karir, jabatan serta kehidupannya – demi Gogo Rancah. Demi melepaskan masyarakat NTB dari ancaman bahaya kelaparan. Antara dibunuh dan membunuh.

Negara telah memberikan Bintang Mahaputra dan Pak Harto pun menunjukkan rasa hormatnya atas apa yang telah beliau lakukan untuk NTB. Lantas, bagaimana dengan pemerintah NTB?

Apakah terlalu berat hanya untuk memberi nama sebuah jalan, sebagaimana harapan terakhir beliau?

Kami cuma tulang-tulang berserakan, tapi adalah kepunyaanmu. Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.Chairil Anwar |

*Penulis Sekretaris Lombok Heritage Society | LHS

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button