Tak Berkategori

MAFINDO Paparkan Peran Media Melawan Hoaks

GETNEWS – Penyebaran berita palsu (hoaks) yang seringkali beredar di media sosial kian marak. Karenanya diperlukan peran media massa, dengan menyajikan pemberitaan yang benar berdasarkan fakta, berimbang dan sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Dalam kegiatan diskusi bertajuk “Peran Media di Tengah Informasi Hoaks di Masyarakat” yang digelar Biro ANTARA NTB, Riza Fahriza selaku Kepala Biro mengatakan, ANTARA mencoba berperan dalam pencegahan hoaks melalui program Anti Hoaks. Guna menangkal kekuatan media sosial oleh netizen, dengan mengembalikan kembali posisi netizen.

Ia mencontohkan, Indonesia melakukan penghinaan terhadap striker Singapura padahal berita tersebut bohong. Berita hoaks lainnya, soal gempa akibat erupsi sejumlah gunung di Indonesia yang jika dibiarkan bisa berdampak pada sektor pariwisata di daerah.

“Kami menginformasikan berita untuk mengerem berita-berita liar di masyarakat,” tegas Riza Fahriza, saat menjadi narasumber pada kegiatan yang digelar di Santika Hotel Mataram, Selasa, (28/12).

Pemeriksa Fakta Senior Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), Dedy Helsyanto yang juga hadir sebagai narasumber mengungkapkan, hoaks kian berkembang di masyarakat. Untuk itu MAFINDO mengambil peran dalam menangkal hoaks tersebut, diantaranya dengan melakukan edukasi pada masyarakat, membuat artikel periksa fakta setiap harinya untuk memerangi hoaks.

“Komitmen kami melawan hoaks disambut baik, bekerjasama dengan Google, Facebook, WA, Twitter, NGO dan organisasi-organisasi lainnya baik dalam dan luar negeri,” ucapnya.

Dedy meminta masyarakat harus bijak dalam menerima berita dengan melakukan kroscek terlebih dahulu.

“Di era perkembangan digital, berita-berita liar yang dibagikan dalam kanal platform sosial, jika tidak hati-hati bisa saja kita menjadi bagian dan turut menyebarkan hoaks,” tuturnya.

Berdasarkan data survei Status Literasi Digital Nasional angka orang Indonesia yang terpapar hoaks adalah 60 persen. Jumlah berita hoaks kian tahunnya semakin meningkat. Pada tahun 2018 berjumlah 1.000 hoaks, tahun 2019 berjumlah 1.500 hoaks, tahun 2020 semakin meningkat hingga 2.500 hoaks. Angka ini didominasi pada hal-hal baru yang dilakukan pemerintah seperti pemberitaan pandemi Covid-19 hingga kegiatan vaksinasi Covid-19.

Menurutnya, masyarakat masih belum mampu membedakan pemberitaan yang hoaks atau berita yang ditulis jurnalis.

“Padahal ada kaidah kita (jurnalis, red) dalam pemberitaan, seperti cover both side, hak tanya jawab. Untuk berita yang ditulis jurnalis sudah sesuai kaidah, rule of the game. Artinya kalau media jurnalis yang tulis bukan berita palsu. Sedangkan berita hoaks tidak ada kaidah nya, meski menggunakan kalimat-kalimat yang meyakinkan tapi tidak 5W+1H,” terang Dedy.

Dedy memaparkan, ada sejumlah alasan mengapa seseorang menyebarkan hoaks. Antara lain, iseng, ingin memprovokasi, keuntungan politik, keuntungan ekonomi, ingin menjadi paling update, bergantung dengan gawai dan terlalu cemas.

“Masyarakat begitu mudah sebarkan hoaks, lantaran lupa pada hukuman penyebaran hoaks, padahal ada undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan lainnya,” jelas Dedy dihadapan puluhan wartawan yang hadir pada diskusi tersebut.

Perlu diketahui, hoaks berasal dari kata hocus ini mempunyai arti mengelabui. Hocus sendiri adalah penyingkatan dan hocus pocus semacam mantra dari aksi sulap di atas panggung. Kata hocus mulai digunakan sekitar tahun 1808.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button