Pulau Sumbawa

‘Nimung Rame’ Tradisi Yang Terus Dipertahankan oleh Warga Desa Boal

Sumbawa Besar – Tradisi membuat olahan dari beras ketan yang dimasak dalam bambu atau lebih dikenal oleh masyarakat Sumbawa Nimung Reme masih terus dilestarikan oleh masyarakat di Desa Boal, Kecamatan Empang.

Sejak pagi hari, Selasa (13/09/2022) masyarakat setempat secara beramai-ramai melaksanakan tradisi Nimung Rame ini di Tiu Tiuk, Dusun Boal.

Prosesi Nimung Rame ini diawali dengan masyarakat mempersiapkan segala bahannya untuk membuat Timung atau Nasi Lemang ini. Sejak pagi hari, proses pembakaran secara serentak dilakukan di lokasi maupun di sejumlah titik lain oleh masyarakat.

Sebelum menyantap Timung yang telah dimasak tersebut dengan berbagai olahan pendamping lainnya seperti Gulai dan hingga Opor ayam, terlebih dahulu masyarakat melaksanakan sholat zhuhur di lokasi dilanjutkan dengan Sholat Hajat meminta hujan menjelang musim tanam.

Andi Azis H, Budayawan setempat menjelaskan, kegiatan ini dari pertama dilaksanakan oleh orang tua terdahulu tidak lain dari pada mensyukuri nikmat tuhan yang diberikan.

“Secara adat istiadat petani sebagai wujud syukur kita bisa selesai melakukan panen maupun sekarang kita akan menghadapi masa tanam padi,” ungkapnya.

“Jadi ini satu langkah kita ikuti jejak orang tua dulu, mempersatukan masyarakat dalam hal baik secara sosial, budaya, ekonomi dan agama, pertahankan kearipan lokal,” tambahnya.

Menurutnya, tradisi Nimung Rame ini telah dilaksanakan sejak tahun 50-an dan secara turun temurun hingga saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat.

“Pertama di laksanakan di Manipa lokasi mata air, sekarang di Tiu Tuik karena disana agak jauh dan akses jalannya sulit. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Selasa pada bulan September,” tandasnya.

Baca juga : Universitas Samawa Usulkan Boal Jadi Desa Budaya

Sementara itu, Kepala Desa Sriani mengatakan, pihaknya berencana menjadikan Tiu Tuik ini sebagai lokasi tetap pelaksanaan Nimung Rame. Hanya saja, askes jalan masuk ke lokasi masih menjadi persoalan.

“Akses jalannya sangat parah. Itu saya pernah minta di dewan kabupaten dan provinsi namun belum terealisasi. Dari titik nol itu tahun ini saya adakan rehab dari dana desa yang saya ciutkan segala cara,” ungkapnya.

Menurutnya, akses jalan masuk menuju lokasi dari titik 0 (jalan yang telah bagus) sepanjang 4 KM. Itu yang akan menjadi prioritas program desa jika sudah bisa mengalokasikan 20 persen untuk pariwisata.

“Rencana perbaikannya mudahan bisa pengaspalan karena masih banyak kebutuhan masyarakat saya dengan jalan ini sampai lahan pertaniannya sampai 8 km. Tapi yang saya upayakan biar fokus saat ini sampai sini saja lokasi tempat Nimung Rame,” pungkasnya. ()

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button